Sunday, June 12, 2011
Kasihan sama siapa?
"ALLAH itu Mahaadil kok."
Salah satu sifat yang paling dilematis dari diri saya adalah nggak enakan dan nggak tegaan. Kata beberapa orang, itu yang bikin saya jadi nggak tegas. Setiap ada yang ngutang, jarang saya tagih kecuali orang itu ngutang dalam jumlah besar dan saya lagi butuh uang. Setiap ada kakek-kakek jualan sapu, pisau, makanan atau yang lainnya, pasti saya ngeliatnya pengen nangis (bukan pengen beli). Usianya yang sudah uzur, tubuh tuanya yang ringkih, pandangannya yang meluluhkan hati.
Setiap ditolongin orang, saya juga bawaannya galau terus. Ya nggak enak lah sama orangnya, takut ngerepotin, bingung gimana lagi caranya ngungkapin terima kasih, dan lain-lainnya. Kalo ada orang salah juga gitu, dalam kebabyakan kasus saya cuma bisa bilang "nggak apa-apa.." atau yang paling sadis pun, cuma melirik ke si-yang-punya-salah, trus berlalu tanpa berkata-kata.
Apalagi, kalo nonton filem sedih, (permisi, asal bukan sinetron atau cerita cinta-cintaan cengeng ya.) kayak Taehukgi, Hachiko, atau One Litre of Tears. Banjirlah.
Kalo kata seorang sahabat saya yang baru aja menyaksikan saya ngasih duit kepada pengemen ketiga pas kita lagi makan di tenda biru, "Kamu terlalu ngasianin orang, sampe nggak ngasianin diri sendiri.. punya duit buat pulang nggak?" katanya.
"(gulp.) Ada kok.. masih ada recehan." Tangkis saya.
"Hh.. sekali-kali, belajar bersikap koleris.."
"..." dasar koleris sejati, pikir saya. 

Apa hubungannya koleris dan melankolis soal ngasih-duit-ke-pengamen?
Wednesday, June 8, 2011
Beberapa saat yang lalu.. Tumbuh sebuah tunas kecil di hati ini.
Awalnya, biasa saja. Namun kelamaan, rasanya ada yang mengganjal. Ada yang mengganggu.
Tunas itu masih kecil. Mungkin dengan satu atau dua daun mungil. Akarnya sudah merambat, meskipun belum mencengkram kuat.
Kucoba meneliti tunas ini. Ada yang salah, ya.. aku tau ada yang salah. Tunas ini berpenyakit!
#ugh
Selidik punya selidik, setelah menelusuri akar utama yang lebih dulu mengecambahi, kutahu ini tunas IRI. Ya, tunas iri yang tumbuh dan siap bermetamorfosa menjadi penyakit, lalu kemudian akan menjangkiti hati ini! Astaghfirullah.. astaghfirullah..
Bukan iri oleh materi.. karena subjek yang dimaksud tak memiliki bentuk kecuali realisasinya. Aku iri karena dia begini dan begitu. Aku iri karena dia bisa begini dan begitu. Aku iri atas prestasinya. Apa yang bisa dibanggakan darinya. Aku melihat intan di pangkuanyya, serta debu di pangkuanku.
Astaghfirullah..
Aku tau. Kita nggak akan jadi apa-apa kalau kita nggak menjadikan diri apa-apa. Menjadikan diri apa-apa berarti mengorbankan apa-apa yang dimiliki, bersedia ngapa-ngapain dan diapa-apain. Maka kita akan menjadi apa-apa.
Aku sudah menjadikan diri jadi apa? Kalau aku iri kepada mereka yang menjadi apa-apa, mengapa aku nggak ikutan menjadikan diri apa-apa supaya aku juga bisa?
Aku mau lebih bersyukur.. nggak mau retorika syukur. (padahal tulisan INI juga retorika ya..)
Aku akan melakukan apa-apa yang kubisa, belajar apa-apa yang belum kukuasai, dan membereskan apa-apa yang belum pada tempatnya. Retorika ini, semoga bukan hanya retorika.
BISMILLAH!
(pojok aula lt.3 gedung Q, saat sidang umum LPJ HMJA oleh MPM PNJ 10-11)
Awalnya, biasa saja. Namun kelamaan, rasanya ada yang mengganjal. Ada yang mengganggu.
Tunas itu masih kecil. Mungkin dengan satu atau dua daun mungil. Akarnya sudah merambat, meskipun belum mencengkram kuat.
Kucoba meneliti tunas ini. Ada yang salah, ya.. aku tau ada yang salah. Tunas ini berpenyakit!
#ugh
Selidik punya selidik, setelah menelusuri akar utama yang lebih dulu mengecambahi, kutahu ini tunas IRI. Ya, tunas iri yang tumbuh dan siap bermetamorfosa menjadi penyakit, lalu kemudian akan menjangkiti hati ini! Astaghfirullah.. astaghfirullah..
Bukan iri oleh materi.. karena subjek yang dimaksud tak memiliki bentuk kecuali realisasinya. Aku iri karena dia begini dan begitu. Aku iri karena dia bisa begini dan begitu. Aku iri atas prestasinya. Apa yang bisa dibanggakan darinya. Aku melihat intan di pangkuanyya, serta debu di pangkuanku.
Astaghfirullah..
Aku tau. Kita nggak akan jadi apa-apa kalau kita nggak menjadikan diri apa-apa. Menjadikan diri apa-apa berarti mengorbankan apa-apa yang dimiliki, bersedia ngapa-ngapain dan diapa-apain. Maka kita akan menjadi apa-apa.
Aku sudah menjadikan diri jadi apa? Kalau aku iri kepada mereka yang menjadi apa-apa, mengapa aku nggak ikutan menjadikan diri apa-apa supaya aku juga bisa?
Aku mau lebih bersyukur.. nggak mau retorika syukur. (padahal tulisan INI juga retorika ya..)
Aku akan melakukan apa-apa yang kubisa, belajar apa-apa yang belum kukuasai, dan membereskan apa-apa yang belum pada tempatnya. Retorika ini, semoga bukan hanya retorika.
BISMILLAH!
(pojok aula lt.3 gedung Q, saat sidang umum LPJ HMJA oleh MPM PNJ 10-11)
Friday, May 13, 2011
Ngisengin photoshop #1
Wednesday, May 11, 2011
Saya seorang Pelaku Santai
Tipe Pelaku Santai adalah orang-orang yang ramah dan bahagia. Mereka menikmati kebersamaan dengan orang lain. Cerdas, pandai bicara, jenaka dan penuh pesona, mereka suka menjadi pusat perhatian. Mereka tidak suka sendiri. Semangat hidup mereka membuat orang lain merasa nyaman ditemani mereka dan membuat mereka cepat mengenal orang lain. Tipe Pelaku Santai menikmati saat-saat terbaik dari tiap kesempatan – banyak orang tipe ini berbakat membuat seluruh hidup mereka bagaikan suatu pesta besar. Kebosanan tidak akan terjadi jika ada mereka karena mereka sangat pandai menghanyutkan orang lain dengan antusiasme, suasana hati riang, dan optimisme mereka.
Pemikiran abstrak dan filosofis mendalam mengenai arti kehidupan tidak terlalu menarik minat tipe Pelaku Santai. Mereka pragmatis, realistis, dan benar-benar hidup dalam kekinian. Dalam bekerja mereka juga lebih suka jika semuanya sudah siap sehingga mereka bisa menjalankan tekad mereka dengan sebaik-baiknya. Tidak masalah bagi mereka menangani beberapa tugas sekaligus dan mereka justru gemilang di saat genting! Kegiatan dari beragam bidang dengan banyak kontak sosial sangat tepat bagi mereka. Orang juga jarang menemukan mereka berdiam diri saat waktu senggang; karena sifat mereka yang terbuka dan penuh rasa ingin tahu, kebanyakan dari mereka memiliki banyak hobi dan minat. Mereka tidak takut akan hal-hal yang belum mereka ketahui: karena mereka luwes dan kreatif, dengan cepat mereka menyesuaikan diri dengan situasi-situasi baru dan memanfaatkannya dengan baik. Kadang-kadang mereka terlibat konflik dengan peraturan atau hirarki yang ketat, yang langsung membuat mereka merasa terpasung hingga berontak terhadapnya.
Sebagai teman, tipe Pelaku Santai adalah orang-orang murah hati dan gemar menolong yang sangat mementingkan hubungan harmonis dan suasana yang mendukung. Sikap mudah bergaul mereka membuat mereka memiliki lingkaran besar pertemanan dan mereka suka jika rumah mereka dipenuhi beragam tipe tamu. Dengan senang hati mereka melarutkan diri pada suasana hati dan minat mereka yang spontan ke dalam satu atau dua hal penting saja. Ini membuat mereka kelihatan agak tidak bisa ditebak bagi mereka yang memiliki sifat lebih pendiam. Saat sungguh-sungguh penting, Anda bisa mengandalkan mereka seratus persen. Sebagai pasangan, mereka kreatif, bergerak cepat, dan imajinatif – asalkan pasangan mereka tahu bagaimana membuat mereka terpesona. Mereka nyaris tidak bisa tahan dengan kebosanan atau rutinitas dalam suatu hubungan. Mereka sama sekali tidak menyukai konflik; jika sebuah hubungan jadi membutuhkan terlalu banyak ketahanan atau upaya, mereka cenderung menarik diri dari hubungan tersebut dan mulai mencari pasangan baru. Namun demikian, jika Anda berhasil terus menyalakan rasa ingin tahu mereka dalam jangka panjang dan memberi mereka kejutan dari waktu ke waktu, Anda akan mendapatkan pasangan yang setia dan penuh cinta.
Tuesday, May 10, 2011
Syukurin!
"elu oon sih pit, pantesan masuk *** (kampus saya.)..!" ujar salah seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri yang berkampus di depok, tetangga kampusku.
panas?? oh, tidak. aku benci bukan main. aku memang suka gak nyambung dan pelupa. tapi bukan karena itu aku disini.
(dumelanku waktu itu, "emang elu masuk ** karna apa?? kesian deh lu,." Astaghfirullah..)
sayang sekali, anda salah. saya disini karena Allah menghendakinya. ini ikhtiar terbaik, sungguh.aku hanya mampu memompanya ke titik ini, sambil mengabaikan inginnya aku mengikuti simak ui dan kawan-kawan. mengabaikan protes potensi yang menjerit tak setuju jika aku 'berhenti' disini, begitu saja.
(kalau bukan tanpa kenekatan, yang akan terjadi detik ini tak terbayangkan.. *bergidik)
kenyataannya begini. yah, betapa Allah mahaadil. diletakkanNya aku disini, dihamparkanNya aku pada kisah ini. menjadi pionNya diatas sepetak papan kehidupan. masing-masing punya cara sendiri untuk berjalan, punya peran sendiri untuk mencapai tujuan. kemenangan.
menghadapi kenyataan.
tanpa maksud berandai-andai, aku membayangkan apa jadinya aku setahun lagi. dua tahun lagi. lulus, lalu tahun berikutnya. dan seterusnya..
visi? ahh, ya. visi temporer.
tingkat satu, kata seorang kakak; masih-bebas-menentukan-dimana-kita-bermain, membangun-basis-kepercayaan, belajar-melihat-mendengar-dan-bermain-dengan-cantik.
apa langkahku hari ini, akan membias pada pada bentangan masa depan..
dimana pun berada, itulah medanku. itulah uhudku.
memntomori
fithrinusya@yahoo.com
"elu oon sih pit, pantesan masuk *** (kampus saya.)..!" ujar salah seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri yang berkampus di depok, tetangga kampusku.
panas?? oh, tidak. aku benci bukan main. aku memang suka gak nyambung dan pelupa. tapi bukan karena itu aku disini.
(dumelanku waktu itu, "emang elu masuk ** karna apa?? kesian deh lu,." Astaghfirullah..)
sayang sekali, anda salah. saya disini karena Allah menghendakinya. ini ikhtiar terbaik, sungguh.aku hanya mampu memompanya ke titik ini, sambil mengabaikan inginnya aku mengikuti simak ui dan kawan-kawan. mengabaikan protes potensi yang menjerit tak setuju jika aku 'berhenti' disini, begitu saja.
(kalau bukan tanpa kenekatan, yang akan terjadi detik ini tak terbayangkan.. *bergidik)
kenyataannya begini. yah, betapa Allah mahaadil. diletakkanNya aku disini, dihamparkanNya aku pada kisah ini. menjadi pionNya diatas sepetak papan kehidupan. masing-masing punya cara sendiri untuk berjalan, punya peran sendiri untuk mencapai tujuan. kemenangan.
menghadapi kenyataan.
tanpa maksud berandai-andai, aku membayangkan apa jadinya aku setahun lagi. dua tahun lagi. lulus, lalu tahun berikutnya. dan seterusnya..
visi? ahh, ya. visi temporer.
tingkat satu, kata seorang kakak; masih-bebas-menentukan-dimana-kita-bermain, membangun-basis-kepercayaan, belajar-melihat-mendengar-dan-bermain-dengan-cantik.
apa langkahku hari ini, akan membias pada pada bentangan masa depan..
dimana pun berada, itulah medanku. itulah uhudku.
memntomori
fithrinusya@yahoo.com
panas?? oh, tidak. aku benci bukan main. aku memang suka gak nyambung dan pelupa. tapi bukan karena itu aku disini.
(dumelanku waktu itu, "emang elu masuk ** karna apa?? kesian deh lu,." Astaghfirullah..)
sayang sekali, anda salah. saya disini karena Allah menghendakinya. ini ikhtiar terbaik, sungguh.aku hanya mampu memompanya ke titik ini, sambil mengabaikan inginnya aku mengikuti simak ui dan kawan-kawan. mengabaikan protes potensi yang menjerit tak setuju jika aku 'berhenti' disini, begitu saja.
(kalau bukan tanpa kenekatan, yang akan terjadi detik ini tak terbayangkan.. *bergidik)
kenyataannya begini. yah, betapa Allah mahaadil. diletakkanNya aku disini, dihamparkanNya aku pada kisah ini. menjadi pionNya diatas sepetak papan kehidupan. masing-masing punya cara sendiri untuk berjalan, punya peran sendiri untuk mencapai tujuan. kemenangan.
menghadapi kenyataan.
tanpa maksud berandai-andai, aku membayangkan apa jadinya aku setahun lagi. dua tahun lagi. lulus, lalu tahun berikutnya. dan seterusnya..
visi? ahh, ya. visi temporer.
tingkat satu, kata seorang kakak; masih-bebas-menentukan-dimana-kita-bermain, membangun-basis-kepercayaan, belajar-melihat-mendengar-dan-bermain-dengan-cantik.
apa langkahku hari ini, akan membias pada pada bentangan masa depan..
dimana pun berada, itulah medanku. itulah uhudku.
memntomori
fithrinusya@yahoo.com
"elu oon sih pit, pantesan masuk *** (kampus saya.)..!" ujar salah seorang mahasiswa perguruan tinggi negeri yang berkampus di depok, tetangga kampusku.
panas?? oh, tidak. aku benci bukan main. aku memang suka gak nyambung dan pelupa. tapi bukan karena itu aku disini.
(dumelanku waktu itu, "emang elu masuk ** karna apa?? kesian deh lu,." Astaghfirullah..)
sayang sekali, anda salah. saya disini karena Allah menghendakinya. ini ikhtiar terbaik, sungguh.aku hanya mampu memompanya ke titik ini, sambil mengabaikan inginnya aku mengikuti simak ui dan kawan-kawan. mengabaikan protes potensi yang menjerit tak setuju jika aku 'berhenti' disini, begitu saja.
(kalau bukan tanpa kenekatan, yang akan terjadi detik ini tak terbayangkan.. *bergidik)
kenyataannya begini. yah, betapa Allah mahaadil. diletakkanNya aku disini, dihamparkanNya aku pada kisah ini. menjadi pionNya diatas sepetak papan kehidupan. masing-masing punya cara sendiri untuk berjalan, punya peran sendiri untuk mencapai tujuan. kemenangan.
menghadapi kenyataan.
tanpa maksud berandai-andai, aku membayangkan apa jadinya aku setahun lagi. dua tahun lagi. lulus, lalu tahun berikutnya. dan seterusnya..
visi? ahh, ya. visi temporer.
tingkat satu, kata seorang kakak; masih-bebas-menentukan-dimana-kita-bermain, membangun-basis-kepercayaan, belajar-melihat-mendengar-dan-bermain-dengan-cantik.
apa langkahku hari ini, akan membias pada pada bentangan masa depan..
dimana pun berada, itulah medanku. itulah uhudku.
memntomori
fithrinusya@yahoo.com
Aku Cantik!
Aku Cantik!
Kulihat wajahku di cermin. Mataku yang bulat dan jernih, hidungku yang ramping walaupun gak mancung. Bibir yang terukir sempurna, merah merona. Pipi yang imut, alis yang melengkung indah. Rambut hitam tergerai manja, wangi pula. Biarpun polos tanpa make up begini, tetap saja aku terlihat cantik!
Hem, bukan kepedean atau narsis lho. Tapi, aku memang cantik. Kalo aku ganteng, wah bahaya.. bisa bisa dianggap bukan perempuan normal, hehehe. Banyak teman-teman juga setuju demikian. Alhamdulillah, syukurku dalam hati yang berbunga.
Kuamati lagi pantulan diriku di cermin. Hmm, jadi seyum-senyum sendiri..
"Ih h, ngapain lo senyum senyum sendiri? kesambet ya??"
Aku menoleh. Ternyata suara itu milik sahabatku yang iseng, Pipit.
"Yee, gak bisa liat orang seneng apah.." Balasku manyun.
"Ngaca melulu, takut cantiknya ilang yaa? hihi.." Ujarnya geli sambil ikutan ngaca disebelahku.
Benar juga. Lambat laun, usia akan mengambil alih wajahku. Rambut rontok, beruban, kulit keriput... Wah, aku jadi gak cantik lagi dong!
"Dih, bengong lagi.. " Ujarnya sambil menyikutku. Kulempar senyum manyunku kepadanya. Kuperhatikan, sebenarnya pipit juga cantik, hanya saja ia menutupinya dengan kain lebar sedada yang dipakainya.
"Pit, kamu sebenernya cantik juga ya.." Ucapku iseng.
"Iya doong, hehe.. " Balasnya tersipu.
"Tapi, sayang banget kamu pake jilbab, rambut panjang kamu jadi ketutupan. Muka kamu juga jadi agak tersembunyi." Lanjutku- acuh.
"Yee, justru itu, aku mau jaga kecantikan aku .." Katanya santai.
"Maksud kamu? malah sayang dong ditutupin.." Balasku.
"Aku mau jaga supaya cantiknya aku ini hanya bisa dinikmatin sama orang-orang terpilih.. gak sembarangan.." Ujarnya mulai serius.
Aku jadi penasaran.
"Ih, aku makin gak ngerti deh.. Jadi, kamu pake jilbab sebenernya buat apa?" Kataku sambil duduk di kursi. Pipit ikut duduk disebelahku.
"Aku pake jilbab, karena ALLAH nyuruh begitu. Liat deh di surat Al Ahzab ayat 59.. 'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Aku garuk garuk kepala.. Mulai deh si Pipit dakwah..
"Hmm iya, iya, terus? maksudnya?"
"Yaa, liat sendiri kan? kalau ALLAH yang nyuruh, berarti udah harga mati buat para perempuan supaya pake jilbab, alias nutup aurat.. " Ujarnya santai.
"Terus? Gitu doang? pake jilbab supaya mudah dikenal dan gak diganggu, maksudnya gimana?" Ujarku.
"Iya, mudah dikenal, maksudnya jilbab sebagai identitas kita wanita muslim. Hayo, kamu ngaku muslim kan? Terus, supaya gak diganggu, karena Insya Allah, Allah bakal jagain kita selama kita menjaga syariat-Nya.." Terangnya panjang lebar.
"Hmm.." Aku berusaha mencerna kata-katanya.
"Gini deh, kalo kamu beli kue, pilih yang dijajakan terbuka apa yang dibungkus pelastik?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ih, gak nyambung amat. Kita lagi ngomongin jilbab kan.." Protesku.
"Udah, jawab dulu.."
"Aku beli yang dibungkus lah. Kalo beli yang udah terbuka kan belum tentu bersih. Udah dipegang-pegang sama orang, dilalerin, kena debu.." Jawabku sekenanya.
"Nah, sama kayak perempuan, kita ini kan mahal. Lebih terjaga kualitasnya kalo 'dibungkus' alias pake jilbab kan? Kalo nggak, banyak yang udah nikmatin kecantikkan kita sembarangan, bahkan bisa nimbulin maksiat, seperti nafsu dan sebagainya.." Ujarnya sambil nyengir.
Hmm, bener juga ya..
"Tapi, aku belum siap pake jilbab.. aku kan masih petakilan begini.." Kataku.
"Segalanya butuh proses.. Gak ada hujan tiba-tiba ngejebyur dari langit gitu aja, ada proses hidrologinya. Ketika kita berjilbab, otomatis kita bakal memperbaiki diri, karena jilbab jadi pengingat kita kalo mau yang aneh-aneh. Malu sama jilbab, gitu.. eh yang penting, malu sama ALLAH. Kalo kita terus terusan gak siap pake jilbab, artinya kita gak siap memperbaiki diri, kita gak siap masuk syurga, kita masih siap buat maksiat teruus.. tapi tetep, semua itu butuh proses." Ujarnya kalem.
"Iya sih.." Kataku sambil manggut-manggut. Gile, si Pipit pinter juga.. haha.
"Terus, berjilbab itu kan gak semata-mata pake kerudung doang. Pakaiannya juga mesti diperhatiin. Gak boleh ngetat, transparan, ngatung apalagi. Harus nutup semua aurat, komplit!" Tambahnya.
"Ih, pake jilbab ribet banget, gak bisa modis.. " Rutukku pelan.
"Euy, hikmahnya tuh supaya gak banyak pitnah.. Kamu pikir, kejadian perkosaan dan pelecehan seksual itu gara-gara kesalahan cowok cowok mata keranjang? Gak ada kucing yang nolak ikan, say.. Gak ada laki-laki yang nolak badan seksi dengan baju kurang bahan berseliweran.." Katanya dengan berapi-api.
Kata-kata pipit berkejaran di benakku. Aku kembali menoleh ke cermin. Tapi, wajah cantikku..
"Kamu, aku yakin bakal lebiiiih cantik luar dalem kalo pake jilbab. Percaya deh sama aku. Gak hanya laki-laki yang baik, ALLAH pun bakal makin perhatian sama kamu.." Ujar Pipit sambil tersenyum manis.
Bagaimana menurutmu? Menurut Nuranimu?
mementomori
fithrinusya@yahoo.com
Kulihat wajahku di cermin. Mataku yang bulat dan jernih, hidungku yang ramping walaupun gak mancung. Bibir yang terukir sempurna, merah merona. Pipi yang imut, alis yang melengkung indah. Rambut hitam tergerai manja, wangi pula. Biarpun polos tanpa make up begini, tetap saja aku terlihat cantik!
Hem, bukan kepedean atau narsis lho. Tapi, aku memang cantik. Kalo aku ganteng, wah bahaya.. bisa bisa dianggap bukan perempuan normal, hehehe. Banyak teman-teman juga setuju demikian. Alhamdulillah, syukurku dalam hati yang berbunga.
Kuamati lagi pantulan diriku di cermin. Hmm, jadi seyum-senyum sendiri..
"Ih h, ngapain lo senyum senyum sendiri? kesambet ya??"
Aku menoleh. Ternyata suara itu milik sahabatku yang iseng, Pipit.
"Yee, gak bisa liat orang seneng apah.." Balasku manyun.
"Ngaca melulu, takut cantiknya ilang yaa? hihi.." Ujarnya geli sambil ikutan ngaca disebelahku.
Benar juga. Lambat laun, usia akan mengambil alih wajahku. Rambut rontok, beruban, kulit keriput... Wah, aku jadi gak cantik lagi dong!
"Dih, bengong lagi.. " Ujarnya sambil menyikutku. Kulempar senyum manyunku kepadanya. Kuperhatikan, sebenarnya pipit juga cantik, hanya saja ia menutupinya dengan kain lebar sedada yang dipakainya.
"Pit, kamu sebenernya cantik juga ya.." Ucapku iseng.
"Iya doong, hehe.. " Balasnya tersipu.
"Tapi, sayang banget kamu pake jilbab, rambut panjang kamu jadi ketutupan. Muka kamu juga jadi agak tersembunyi." Lanjutku- acuh.
"Yee, justru itu, aku mau jaga kecantikan aku .." Katanya santai.
"Maksud kamu? malah sayang dong ditutupin.." Balasku.
"Aku mau jaga supaya cantiknya aku ini hanya bisa dinikmatin sama orang-orang terpilih.. gak sembarangan.." Ujarnya mulai serius.
Aku jadi penasaran.
"Ih, aku makin gak ngerti deh.. Jadi, kamu pake jilbab sebenernya buat apa?" Kataku sambil duduk di kursi. Pipit ikut duduk disebelahku.
"Aku pake jilbab, karena ALLAH nyuruh begitu. Liat deh di surat Al Ahzab ayat 59.. 'Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
Aku garuk garuk kepala.. Mulai deh si Pipit dakwah..
"Hmm iya, iya, terus? maksudnya?"
"Yaa, liat sendiri kan? kalau ALLAH yang nyuruh, berarti udah harga mati buat para perempuan supaya pake jilbab, alias nutup aurat.. " Ujarnya santai.
"Terus? Gitu doang? pake jilbab supaya mudah dikenal dan gak diganggu, maksudnya gimana?" Ujarku.
"Iya, mudah dikenal, maksudnya jilbab sebagai identitas kita wanita muslim. Hayo, kamu ngaku muslim kan? Terus, supaya gak diganggu, karena Insya Allah, Allah bakal jagain kita selama kita menjaga syariat-Nya.." Terangnya panjang lebar.
"Hmm.." Aku berusaha mencerna kata-katanya.
"Gini deh, kalo kamu beli kue, pilih yang dijajakan terbuka apa yang dibungkus pelastik?" Tanyanya tiba-tiba.
"Ih, gak nyambung amat. Kita lagi ngomongin jilbab kan.." Protesku.
"Udah, jawab dulu.."
"Aku beli yang dibungkus lah. Kalo beli yang udah terbuka kan belum tentu bersih. Udah dipegang-pegang sama orang, dilalerin, kena debu.." Jawabku sekenanya.
"Nah, sama kayak perempuan, kita ini kan mahal. Lebih terjaga kualitasnya kalo 'dibungkus' alias pake jilbab kan? Kalo nggak, banyak yang udah nikmatin kecantikkan kita sembarangan, bahkan bisa nimbulin maksiat, seperti nafsu dan sebagainya.." Ujarnya sambil nyengir.
Hmm, bener juga ya..
"Tapi, aku belum siap pake jilbab.. aku kan masih petakilan begini.." Kataku.
"Segalanya butuh proses.. Gak ada hujan tiba-tiba ngejebyur dari langit gitu aja, ada proses hidrologinya. Ketika kita berjilbab, otomatis kita bakal memperbaiki diri, karena jilbab jadi pengingat kita kalo mau yang aneh-aneh. Malu sama jilbab, gitu.. eh yang penting, malu sama ALLAH. Kalo kita terus terusan gak siap pake jilbab, artinya kita gak siap memperbaiki diri, kita gak siap masuk syurga, kita masih siap buat maksiat teruus.. tapi tetep, semua itu butuh proses." Ujarnya kalem.
"Iya sih.." Kataku sambil manggut-manggut. Gile, si Pipit pinter juga.. haha.
"Terus, berjilbab itu kan gak semata-mata pake kerudung doang. Pakaiannya juga mesti diperhatiin. Gak boleh ngetat, transparan, ngatung apalagi. Harus nutup semua aurat, komplit!" Tambahnya.
"Ih, pake jilbab ribet banget, gak bisa modis.. " Rutukku pelan.
"Euy, hikmahnya tuh supaya gak banyak pitnah.. Kamu pikir, kejadian perkosaan dan pelecehan seksual itu gara-gara kesalahan cowok cowok mata keranjang? Gak ada kucing yang nolak ikan, say.. Gak ada laki-laki yang nolak badan seksi dengan baju kurang bahan berseliweran.." Katanya dengan berapi-api.
Kata-kata pipit berkejaran di benakku. Aku kembali menoleh ke cermin. Tapi, wajah cantikku..
"Kamu, aku yakin bakal lebiiiih cantik luar dalem kalo pake jilbab. Percaya deh sama aku. Gak hanya laki-laki yang baik, ALLAH pun bakal makin perhatian sama kamu.." Ujar Pipit sambil tersenyum manis.
Bagaimana menurutmu? Menurut Nuranimu?
mementomori
fithrinusya@yahoo.com
Sunday, February 27, 2011
Baca dan Nulis
Aku cinta menulis, selayaknya aku mencintai buku.
Buku adalah jendelaku dalam arti sebenarnya dan segala-galanya. Mengintip segala sesuatu dari ketidak-terhinggaan alam semesta ini lewat berbagai macam kepala orang-orang. Meneropong berbagai fenomena dalam bermacam sudut pandang. Apa yang dipikirkan seorang autis tentang kepergian Neil Armstrong ke bulan? Apa kata kata penyesalan yang ingin dikatakan seorang pembuat virus terkejam di dunia?
Aku bisa berkelana ke rawa-rawa penuh hipotesa yang rumit, atau ke padang rumput fakta yang lebih menjanjikan. Berkelana, kadang tersandung suatu konspirasi yang dibuat oleh kelompok/individu yang keji. Kadang melambung tinggi ke langit saat membayangkan fantasi-fantasi C.S Lewis, Lemony Snicket, atau JK Rowling. Lebih sering terpekur di padang yang sunyi dan tenang saat membalik lembaran-lembaran Al Qur’an. Tak perlu aku beranjak, aku bisa kemana saja dengan tetap di kursiku.
Dulu, sebelum terlelap ibuku kerap membacakan cerita dari buku Ba’da Isya. Hmm, ingat deh dulu aku punya sampai jilid 5. Cerita didalamnya bagiku sungguh memukau, dalam imajinasi otak kanan kecilku terbayang Rasulullah SAW yang berlaga penuh cahaya memimpin perang; Fathimah binti Muhammad si cantik nan shalihah yang sabar dan tawakkal; dan kisah lainnya yang penuh hikmah dan himmah.
Aku menyukai buku itu, dan meminta ibuku untuk membacakannya setiap malam. bahkan hingga 2-3 cerita. Sampai serak ia, namun aku tak juga puas. ingin mereguk lebih dalam, menyelami lebih dasar, dan terus merengek untuk dibacakan, walaupun cerita itu sudah dibacakan berulang kali.
“Ibu capek nak, kalo kamu mau tau ceritanya, mending kamu baca sendiri..” tukas ibu suatu kali.
Ha, kesal rupanya.
Ha, kesal rupanya.
Baiklah, aku coba. Saat itu, umurku masih 4 tahun, baru saja masuk TK nol kecil. Dikelas, kami biasa menempel gambar, menggunting, menyusun puzzle, memanjati perosotan, memberi makan burung, dan bernyanyi bersama. Seingatku belum ada pelajaran membaca saat itu. Pulang ke rumah, ibuku biasa duduk dihadapanku, diantara kami ada selembar kertas dan pensil, lalu ibu menulis berbagai macam huruf sambil menyebutkan bunyinya. Setiap hari begitu, seringkali diwarnai tangis putus asaku dan gemasnya ibuku.
Benar benar frustasi. aku benar benar ingat, aku selalu tak bisa membedakan yang mana huruf B dan P. Wah, tak terhitung deh cubitan cubitan kecil yang dilancarkan ibu ketika itu. Aku benar benar berusaha untuk bisa membaca, aku selalu ingin mengetahui apa yang orang orang pikirkan atau cerita cerita yang diturunkan. Sebulan, dua bulan, akhirnya mata lidahku mulai akrab dengan huruf-huruf. Setiap sore dan malam, dari rumahku pasti terdengar suaraku yang lantang saat membaca. Memang dulu aku belum bisa membaca dalam hati, maklum anak umur 4 tahun..
Ketika saatnya naik ke kelas B di taman kanak kanak, aku sudah lancar membaca, dan lumayan bisa menulis walaupun kadang ejaannya masih salah. Sementara, jaman itu pelajaran membaca baru diajarkan intensif saat kelas B. Maka, ayahku berinisiatif untuk langsung memasukkanku ke sekolah dasar, jadi aku kelas 1 esde tepat saat umurku 5 tahun. Itulah mengapa aku termuda dikalangan teman teman seangkatan.
Di kelas 1, aku tak kesulitan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Hanya terhambat sedikit ketika belajar menulis sambung karena sulit luar biasa; tanganku tak lentur sehingga tulisannya kaku dan patah-patah. Ibuku pun kembali turun tangan; setiap pulang sekolah, kami duduk bersisian dihadapan meja lipat. Tangan ibuku menggenggam tanganku yang menopang pensil. Dilenturkannya tanganku, meliuk mengikuti contoh dan perlahan aku mencoba sendiri. Cukup lama juga, kurang lebih 2 minggu baru aku lancar menulis elok. Bukan main bangganya aku saat itu. Keren kan!
Merasa bisa, aku pun semakin sering menulis. semakin lama tulisanku semakin baik dan semakin bisa dibaca (walaupun dengan angle tertentu 
). Buku tulis pelajaranku tak luput dari aksi coret coretku, sampai ketika itu Bu Guru komplain karena bagian belakang buku tulisku penuh coretan dan gambar gambar. Akhirnya, ibu membelikanku buku diary, ingat deh waktu itu warnanya pink-biru muda dan bersampul Barbie. Dan, sejak itulah aku menulis.
Aku tak pernah bisa dipisahkan dari kertas dan pensil. Ketika sedang liburang dirumah nenek, aku pernah menangis sejadi-jadinya karena tak ada kertas dan pensil. Akhirnya kakekku memberikan buku kas tua yang sudah usang. Tak jadi masalah, pikirku. masih banyak tempat kosong dibelakang.
Sejak itu, aku menulis dimana saja. Cerpen cerpen ku pun muncul satu persatu. Sayang sekali bundelannya hilang. Padahal bagiku itu adalah cetak biru dan prasasti tak terharga..
Sampai sekarang aku masih mencintai menulis, dan tentu saja buku. Aku masih mencintai buku, itu sebabnya aku menulis 
Memento Mori.
Subscribe to:
Posts (Atom)




